Just another WordPress.com site

Masyarakat Tengger

 

Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Mata pencaharian mayoritas penduduk  kebanyakan bertani. Mereka berkendaraan sepeda motor bila hendak ke ladang. Jika panen tiba, barulah mereka mengoperasikan jip untuk mengangkut hasil panen. Hasil panen  tidak saja disimpan di gudang-gudang yang dibangun di tengah-tengah ladang, tetapi juga dibungkus dengan karung-karung plastik dan diletakkan di tepi-tepi kebun. Hal ini untuk memudahkan pengangkutannya ke pasar. Gudang-gudang sederhana yang terbuat dari papan kayu ini sering kali menjadi tempat tinggal pada saat musim panen.

Warga Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani hortikultura. Lahan di lereng-lereng pegunungan Tengger bukan tempat bertanam padi. Di situ cocok untuk bertani tanaman sayur mayur. Kesuburan lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di antara dua gunung yang masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
Petani Tengger dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai mengganti dengan tanaman perdagangan, seperti kentang , wortel, bawang daun, tomat, sawi, kol putih, kol merah dan kembang kol.  Mereka tidak perlu menjual ke luar desanya karena  sudah ada para pengepul yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari Tengger.

Tanaman kentang pada umumnya bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun, terutama di kawasan yang subur dengan kondisi musim dan cuaca yang baik.  Sementara di dataran yang sangat sedikit potensi air bawah tanah, ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, panen hanya bisa dilakukan dua kali dalam setahun. Tanah pertanian yang berbukit-bukit curam, dengan kemiringan sampai lebih dari 45 derajat , diolah dengan sistem terasiring. Sistem ini memungkinkan, petani suku Tengger melakukan usaha budidaya tanaman. Tidak ada alat teknologi pertanian yang dipergunakan, selain cangkul dan sabit.

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger”.

Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Bahasa daerah yang digunakan Masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger, yakni bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa, berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya memiliki beberapa tingkatan.

Tengger dikenal sebagai tanah hila-hila (suci) sejak jaman Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi dibidang keagamaan dari Sang Hyang Widi Wasa. Hingga kini Masyarakat masih mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan Majapahit. Agama Hindu di Bali dan di Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma, tetapi Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada jaman Majapahit.

Masyarakat Tengger kaya akan kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:
Upacara Karo, yang merupakan hari  raya terbesar masyarakat Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru  dan kadang perabotpun juga baru. Makanan dan minumanpun melimpah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah: Mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal usul manusia,  untuk kembali pada kesucian

Upacara Kapat, jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.

Upacara Kawulu, jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun saka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.

Upacara Kasanga, jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa obor. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke rumah kepala desa, untuk dimantrai oleh pendeta. Selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.

Upacara Kasada, diadakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Masyarakat Tengger mendaki Gunung Bromo untuk melempar Kurban (Sesaji) ke dalam kawah.

Upacara Unan-Unan, diadakan hanya setiap lima tahun sekali. Tujuannya adalah untuk mengadakan penghormatan terhadap Roh Leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar pamujan

Catatan :

CU Sawiran membuka cabang kedua (setelah TP Sawiran) di Tosari. Anggota yang dilayani adalah suku Tengger, dan dilayani pula oleh staff asli yang berasal dari suku Tengger. Sikap ramah dan terbuka terlihat ketika kita bertamu, pasti dipersilahkan duduk dan disuguhi kopi khas Tengger. Sebagai penghormatan kita,  kopi itu harus dihabiskan sebelum meninggalkan tempat. Salah seorang teman kami pernah meminum sampai dengan 20 gelas kopi yang disuguhkan ketika berkunjung ke rumah anggota🙂

 

Sunber : ttp://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/08/28/masyarakat-tengger-berbakti-pada-bumimenghormati-leluhur/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s